Rimpu; Identitas Budaya Dou Mbojo

banner 325x300
banner 728x250

Hamjah Diha*

Di bawah pohon yang rindang, di mana angin sepoi-sepoi berhembus lembut, duduklah seorang gadis muda. Gadis muda itu, bernama Ayu. Ia adalah bunga desa, mekar dengan keindahan dan kepolosan yang memancar dari setiap senyumnya. Ayu adalah jelmaan keindahan alam yang tak terjamah, seperti tetes embun di ujung daun yang belum tersentuh sinar mentari pagi. Matanya bening seperti telaga yang memantulkan sinar bulan, penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Rambutnya hitam legam, panjang menjuntai seperti aliran sungai yang mengalir tenang di lembah sunyi.

Ayu tumbuh di tengah-tengah alam yang masih asri, di mana burung-burung berkicau riang setiap pagi, dan angin berbisik lembut di antara pepohonan. Seloah-olah melantunkan syair yang indah kepada Ayu. “Selamat pagi Ayu!.” Hidupnya sederhana, tetapi penuh dengan kebahagiaan yang datang dari hal-hal kecil: merasakan tanah yang hangat di bawah kakinya, mendengar suara gemericik air di sungai, dan menyaksikan bunga-bunga liar bermekaran di sekitar ladang.

Dunia modern yang gemerlap dan penuh hiruk-pikuk kota tidak pernah menyentuh hidup Ayu. Ia masih polos, belum tercemar oleh teknologi atau gaya hidup (life style) serba cepat. Hatinya bersih, seperti kertas putih yang belum ditulisi tinta kehidupan yang rumit. Dalam kesederhanaannya, Ayu menemukan kebahagiaan yang murni, kebahagiaan yang tidak membutuhkan materi atau kemewahan.

Saban pagi, Ayu akan menyusuri jalan setapak menuju hutan kecil di tepi desa, di mana ia duduk di bawah pohon besar, membaca kitab-kitab lama yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dalam kesunyian hutan, ia meresapi kisah-kisah kuno yang penuh dengan kearifan dan kebijaksanaan. Di sanalah ia merasa paling hidup, bersatu dengan alam dan waktu yang seolah berhenti.

Saban hari, Ayu selalu mengenakan kain adat Mbojo. Orang Mbojo menyebutnya dengan sebutan tembe ngoli. Kain tersebut dililitnya di kepala sebagai penganti jilbab, orang Mbojo menyebutnya dengan sebutan rimpu. Penggunaan rimpu terdiri dari dua jenis utama, yakni rimpu mpida dan rimpu colo, karena Ayu yang masih gadis muda, maka ia mengekanan rimpu mpida. Pengguna rimpu mpida adalah para gadis yang belum tercemar oleh dunia modern atau gaya hidup, maka ia mengenakan rimpu mpida. Sebab, Rimpu Mpida menutup hampir seluruh tubuh, menyisakan hanya mata yang tampak. Rimpu menjadi simbol keanggunan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai kesopanan (versi dou mbojo).

Rimpu bukan sekadar busana tetapi cermin jati diri dan kebanggaan budaya. Saat dipakai, rimpu memberikan aura ketenangan dan kepercayaan diri, menegaskan bahwa kecantikan sejati terletak pada bagaimana seorang perempuan membawa dirinya dengan rasa hormat dan keanggunan. Bagi dou Mbojo, rimpu bukan hanya pakaian tradisional; ia adalah perwujudan dari nilai-nilai leluhur yang dijaga dengan penuh cinta dan kebanggaan. Setiap helainya, menceritakan kisah-kisah masa lalu, mengajarkan generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernitas yang terus melaju. Rimpu adalah harmoni antara tradisi dan keindahan, menyatu dalam keheningan yang penuh makna. (bersambung)

*Dosen FKIP UNIQHBA dan Direktur PENA INSTITUTE

https://hamjahdiha.org/wp-content/uploads/2024/04/Tambahkan-judul-1-768x480.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 728x250