Rimpu dan Hati yang Kembali

banner 325x300
banner 728x250

Hamjah Diha*

Langit sore mulai berubah jingga saat Ayu berjalan perlahan menyusuri pantai Kalaki. Angin sepoi menyentuk tubuh lembutnya. Seolah ingin menyapa. Rimpu di kepalanya berkibar pelan, menari mengikuti irama alam. Warna kuning gading yang lembut, dihiasi motif bunga-bunga kecil nan halus, menciptakan nuansa yang teduh, seolah-olah membungkus segala sesuatu dalam keheningan yang menenangkan. Keindahannya berlawanan dengan gemuruh gelombang laut yang tak henti-hentinya berdebur di kejauhan, menciptakan irama alam yang begitu kontras namun saling melengkapi, antara ketenangan dan kekuatan.

Rimpu bukan sekadar busana yang melilit tubuh lembut dou siwe Mbojo, melainkan sebuah simbol kehormatan yang sarat dengan makna yang mendalam. Ia bagaikan perisai yang membungkus jiwa dan raga, melindungi martabat dan identitas setiap perempuan yang memakainya. Dengan setiap lipatannya yang rapi, rimpu menyatu dengan kebanggaan, menjadi peneguh harga diri dan sekaligus penanda bahwa sang pemakai adalah penjaga warisan leluhur. Rimpu adalah lebih dari sekadar kain, ia adalah pelindung dalam diam, menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, menghadirkan rasa hormat yang tak terucap, dan memancarkan kekuatan yang tak tampak oleh mata, namun begitu terasa dalam setiap langkah siwe Mbojo.

Sudah tiga tahun sejak ia terakhir kali mengenakan rimpu. Di rantauan, ia merasa asing bila membawanya. Rimpu adalah identitas yang dulu ia anggap belenggu—penanda bahwa ia berasal dari kampung kecil di timur yang sering diremehkan. Namun, hari ini, ia mengenakannya dengan penuh kesadaran, setiap helai kain yang menyentuh tubuhnya, seolah melantunkan lagu kebanggaan. Setiap gerakan terasa lebih bermakna, dan di balik setiap langkah, ada rasa bangga yang mengalir dalam dirinya, seakan dunia menatapnya dengan kekaguman.

“Anak rimpu sudah kembali,” suara lembut Ibu menyambut dari beranda rumah.

Ayu tersenyum. Ia mencium tangan Ibunya dan duduk di sampingnya, seperti dulu saat kecil, saat Ibu mengajarinya dan membungkuskan rimpu untuk pertama kali.

“Biar tak ada lelaki yang bisa sembarang pandang!,” kata Ibunya waktu itu.

“Tapi Bu… dulu Ayu malu,” lirihnya.

Ibunya menatapnya lembut.

“Karena dulu kau belum tahu bahwa rimpu bukan hanya kain. Melainkan penjaga marwah sekaligus penjaga jati diri.”

Rimpu, selembar kain yang menutupi wajah, seakan menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi pandangan dunia bagi Siwe Mbojo. Bagi sebagian orang, rimpu bukan hanya penutup tubuh lembuh siwe Mbojo, melainkan juga penghalang yang menempatkan perempuan dalam bayang-bayang, seolah-olah mereka hanya menjadi subjek yang dilihat dari jarak jauh oleh kaum laki-laki. Dalam keheningan yang diciptakannya, rimpu menjadi simbol dari pembatasan, seolah mengingatkan bahwa tubuh kaum perempuan hanya boleh dilihat oleh muhrimnya, namun jarang sekali dilibatkan dalam cerita yang lebih luas, yang penuh dengan suara dan kebebasan.

Rimpu, bagi kaum siwe Mbojo, bukan sekadar sehelai kain penutup tubuh—ia menjelma menjadi simbol kesalehan yang tumbuh dari dalam jiwa. Layaknya hijab yang membalut kehormatan dan menjaga kemuliaan, rimpu adalah pancaran nilai luhur yang telah mengakar sejak lama. Di balik lipatan kain yang membungkus tubuh dengan anggun, tersimpan kisah tentang kaum dou Mbojo yang menjunjung tinggi kesucian, kesantunan, dan keimanan. Mereka menjadikan rimpu bukan hanya sebagai warisan budaya, tapi sebagai manifestasi dari ketakwaan yang hidup dalam keseharian—sebuah penanda bahwa kesalehan tak hanya terpancar dari laku ibadah, tapi juga dari cara menjaga diri dengan penuh cinta dan hormat.

Dalam lembaran-lembaran suci yang diturunkan dari langit ke bumi, terdapat ayat-ayat yang lembut namun tegas, membisikkan petunjuk tentang kehormatan, cahaya, dan perlindungan. Di antara wahyu-wahyu itu, hijab hadir bukan sekadar sehelai kain, melainkan simbol dari kedalaman iman dan kebijaksanaan Illahi. Ia adalah panggilan lembut kepada hati perempuan yang ingin menjaga kemuliaan dirinya, laksana perisai cahaya yang membungkus jiwa dalam ketenangan dan keberanian.

Hijab adalah naungan rahmat yang dibentangkan oleh Tuhan di atas kepala para perempuan pilihan. Ia ibarat taman berdinding indah yang menyembunyikan bunga paling harum dari sentuhan debu dunia. Dalam helaian-helaian lembutnya tersimpan keteguhan iman, dalam kerendahannya tersembunyi ketinggian martabat. Allah tidak menjadikannya sebagai sekat yang memenjara, melainkan sebagai pelindung dari mata yang tak pantas memandangnya dan dari niat yang tak layak mendekat. Seperti langit yang menjaga bintang-bintang di malam yang sunyi, hijab menjaga perempuan agar tetap bersinar dalam kehormatan. Dalam balutan hijab, perempuan berjalan laksana bulan di tengah malam – bercahaya, namun tersembunyi, terlihat namun terjaga. Allah menjadikannya pembatas, bukan karena perempuan lemah, tetapi karena mereka begitu berharga, hingga tak layak disingkapkan sembarangan oleh pandangan dunia. Dan dalam keheningan malam, saat hati membaca kalam-Nya, hijab terdengar seperti bisikan kasih Tuhan kepada hamba-Nya: “Wahai wanita yang beriman, jadilah engkau cahaya yang tersembunyi dalam keteduhan rahmat-Ku.”

Ayu menunduk, matanya berkaca. Dunia rantauan memperlihatkan padanya bahwa wajah dunia yang begitu garang—penuh hiruk, penuh luka, penuh perjuangan tanpa jeda. Tapi tanah kelahirannya memeluknya diam-diam, membisikkan tentang asal-usul, tentang jati diri yang tak lekang. Di titik itulah, ia sadar: rimpu bukan warisan yang usang, tapi cerminan kekuatan—sebuah perlawanan halus dalam lipatan kain, keanggunan yang tak tunduk, milik siwe Mbojo yang berdiri dengan martabatnya sendiri. (Bersambung)

*Direktur PENA INSTITUTE dan HDF GROUP

https://hamjahdiha.org/wp-content/uploads/2024/04/Tambahkan-judul-1-768x480.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 728x250