Jangan Biarkan Jemari Melangkah Mendahului Logika

Hamjah Diha (Direktur PENA INSTITUTE dan Dosen Tetap di UNIQHBA)
Hamjah Diha (Direktur PENA INSTITUTE dan Dosen Tetap di UNIQHBA)
banner 325x300
banner 728x250

Oleh : Hamjah Diha*

Indonesia bukanlah sekadar hamparan peta, melainkan sebuah simfoni yang digubah oleh jemari para pendiri Bangsa di atas kanvas Kebhinekaan. Ia adalah tenunan kasih dari ribuan pulau (17.508) yang dipisahkan samudera, namun disatukan oleh rasa; sebuah rumah besar tempat ribuan dialek (lebih dari 1.300 suku bangsa) dan berbagai keyakinan berbeda, namun bersatu dalam satu tarikan napas NKRI. Di sini, perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan warna-warni pelangi yang menghalau badai fitnah dan konflik, menciptakan harmoni abadi di bawah naungan atap persaudaraan yang teduh.


Kita bermimpi melukis harmoni abadi, bernaung di bawah atap persaudaraan yang teduh dan menenangkan. Namun, ketika fajar digitalisasi menyapa, cahaya kebhinekaan justru tampak kian meredup, terhalang kabut ego yang pekat. Nilai-nilai ketulusan kini terkikis, berganti riuh kebencian dan hasutan yang membelah jiwa. Di ruang-ruang hampa layar kaca, fitnah ditabur bagai benih beracun yang merajalela, memicu badai pertikaian antar suku dan keyakinan. Benang merah persatuan kini kian rapuh, terjerat dalam jaring perpecahan yang seolah tak terelakkan.


Kini, fitnah tak lagi berbisik di lorong sepi; ia terbang bebas di angkasa dengan jubah “digital”, menembus dinding-dinding nalar yang kian rapuh. Di bawah panji keterbukaan informasi, dusta menjelma menjadi badai yang tak terbendung, mengaburkan batas antara fakta dan fatamorgana. Lewat jemari yang tak bertanggung jawab, narasi benci disemai atas nama takhta, suku, hingga melukai kesucian dogma. Kita sedang menyaksikan sebuah zaman di mana persaudaraan luruh terbakar api hoax, meninggalkan debu konflik yang pedih di mata kemanusiaan.


Kemanusiaan kini tengah terbatuk, dipaksa menghirup debu-debu konflik yang perih dan menyesakkan mata nurani. Di panggung sandiwara kekuasaan, para pemuja popularitas rela menenun benang kedustaan demi jubah kesuksesan yang semu. Mereka mencuci mata publik dengan air keruh bernama hoax, memaksa kita terpukau pada kemegahan yang dibangun di atas fondasi tipu daya. Sebagaimana getir yang diungkapkan Shafiq Pontoh, luka paling dalam sering kali dihujamkan melalui belati isu SARA dan sosial-politik—racun yang paling mudah ditelan, namun paling mematikan bagi persaudaraan bangsa.


Hoaks bukan sekadar kabar dusta; ia adalah racun paling mematikan yang menyusup ke dalam nadi persaudaraan bangsa. Berdasarkan data Shafiq Pontoh (Republika.co.id), hampir seluruh ruang jagat maya kita terinfeksi, di mana isu sosial-politik (91,8%) dan SARA (88,6%) menjadi sumbu utamanya. Di balik angka-angka tersebut, tersembunyi belati hasutan dan fitnah yang tega mengoyak nalar demi memanen emosi massa. Jika opini negatif terus dibiarkan merajai hati, maka integrasi bangsa yang kita rajut dengan darah dan air mata terancam runtuh dalam seketika.


Tenunan kebangsaan yang kita rajut dengan tumpahan darah dan air mata para pendahulu, kini berada di tepi jurang kehancuran akibat badai dusta. Ingatlah kelamnya tahun 1939, ketika lisan Adolf Hitler meracuni nalar parlemen Jerman dengan fitnah keji tentang peluru Polandia. Di atas fondasi kebohongan itulah, api Perang Dunia II disulut hingga menghanguskan dunia. Sejarah akhirnya menyingkap tabir: bahwa tangan yang mengaku terluka adalah tangan yang memegang belati sejak awal. Jangan biarkan racun narasi meruntuhkan rumah kebangsaan yang kita bangun dengan genangan darah dan pengorbanan nyawa.


Kini, panggung politik dipenuhi sandiwara blusukan, di mana kamera media menjadi kuas yang melukis wajah semu para pesohor. Di bawah sorot lampu mereka, keberhasilan hanyalah fatamorgana yang dirakit dari rekayasa. Namun, bagi mereka yang tak searah, media berubah menjadi algojo yang menjatuhkan vonis nestapa dalam setiap pemberitaannya. Media telah menjelma menjadi “algojo” dingin yang menjatuhkan vonis nestapa di ujung pena pemberitaan. Fenomena ini selaras dengan konsep “simulasi” dari sosiolog Jean Baudrillard.

Menurutnya, kita kini menghuni sebuah ‘dunia simulasi’—sebuah panggung megah di mana kebenaran hanyalah riasan, dan realitas hanyalah rekayasa yang dipoles rapi untuk kepentingan semata. Kita terjebak dalam labirin kode yang dirajut oleh tangan-tangan kepentingan. Apa yang kita peluk sebagai kenyataan, sejatinya hanyalah gema tanpa suara asli; sebuah reproduksi yang lahir dari rahim manipulasi, menjauhkan kita dari hakikat kebenaran yang paling murni.


Kita sedang melangkah di atas jembatan kabut, menjauh dari rahim kebenaran yang paling murni. Inilah rimba “hiperrealitas” yang pernah dibisikkan Baudrillard—sebuah dunia di mana bayangan lebih dipercaya daripada raga. Di panggung digital yang gemerlap, kita menyaksikan para tokoh tampil dengan jubah pencerahan dan janji kesejahteraan yang melangit. Namun, ketika tirai disingkap, keagungan itu hanyalah fatamorgana; sebuah khayalan elok yang dipahat untuk membius mata yang rindu akan makna.
Hoaks adalah khayalan elok yang dipahat hanya untuk membius mata yang rindu akan makna, namun di baliknya tersimpan belati yang siap mengoyak tenun kebhinekaan kita. Kita mungkin tak mampu menutup seluruh pintu kebohongan, namun kita bisa menyalakan pelita tabayun di setiap langkah. Sebelum jemari menyebarkan rupa tanpa jiwa, biarlah nurani melakukan check and recheck, agar persatuan yang telah kita rawat dengan air mata tidak runtuh oleh satu kalimat dusta yang menjalar tanpa henti.”


Berdasarkan Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memberi isyarat kepada setiap Muslim diwajibkan untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran setiap informasi yang dibawa oleh orang fasik. Langkah kehati-hatian ini bertujuan untuk mencegah pengambilan keputusan yang salah yang dapat merugikan pihak lain (musibah) serta menghindari penyesalan di kemudian hari akibat kecerobohan dalam menerima berita.


“Wahai jiwa-jiwa yang berpaut pada iman, janganlah biarkan kabar burung yang dibawa lisan tak teruji menjadi badai yang menghancurkan sesamamu. Selidikilah dalam hening, timbanglah dengan bening. Sebab, setitik kecerobohan hari ini dapat menjadi lautan penyesalan yang tak bertepi di esok hari. Tuhan mengingatkan kita: periksalah, sebelum jemari dan lisanmu menebar duka tanpa sengaja.” Di balik untaian firman_Nya, terselip pesan agar hati tak tergesa membenarkan berita. Hendaknya akal menjadi penyaring yang teliti, membasuh kabar dengan kejernihan tabayyun sebelum ia menjelma menjadi prasangka yang melukai.

*Direktur PENA INSTITUTE dan Dosen Tetap di UNIQHBA

https://hamjahdiha.org/wp-content/uploads/2024/04/Tambahkan-judul-1-768x480.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 728x250