Menemukan Intan di Sela Retakan

banner 325x300
banner 728x250

Hamjah Diha*

Kabar_Moe.com. Apabila kita menyelami lebih dalam ke palung batin, perbedaan hari raya sejatinya adalah sebuah estetika kesunyian. Bayangkan, di satu sudut kota, sebuah keluarga telah membasuh luka dengan air mata maaf di pagi buta. Di sudut lain, tetangga mereka masih memeluk lapar dengan khidmat, menjaga api Ramadan agar tidak padam terlalu dini.

Di titik ini, perdebatan tentang sisa hari tak lagi relevan, sebab hitungan matematis telah kalah oleh dialektika rasa yang berkecamuk di dalam sukma. Tercipta sebuah garis pemisah yang halus: antara mereka yang telah menyiapkan lentera untuk menyambut fajar kemenangan Sang Fitri dengan sukacita, dan mereka yang justru merasa limbung, terpaku di selasar Ramadan sembari meratapi detik-detik yang kian luruh, seolah tak rela membiarkan tamu agung itu berpamitan dari ruang batin mereka.

Di balik perbedaan angka pada kalender, tidakkah kita tetap bersimpuh di hadapan meja yang sama, tempat kepulan uap opor dan merahnya sambal goreng menjelma menjadi pusaka rasa yang meniadakan kasta? Aroma itu adalah rima-rima tua yang menyatukan lidah dalam satu narasi kerinduan yang serupa. Perbedaan hari ini hanyalah sebuah hening yang tertunda, sebuah tarikan napas panjang sebelum akhirnya simfoni sukacita yang megah meledak hebat, meruntuhkan sunyi dengan tawa yang membanjiri ruang keluarga.

Melampaui Cakrawala Penafsiran

Sering kali kita terperangkap dalam labirin formalitas, memuja kulit luar kebenaran hingga lupa akan inti sari yang berdenyut di dalamnya. Kita menghabiskan malam dengan perdebatan sengit mengenai derajat ketinggian hilal, menghitung inci demi inci lengkungan cahaya di ufuk timur, seolah-olah seluruh timbangan keselamatan jiwa dan kunci gerbang surga hanya digantungkan pada posisi rembulan yang fana. Kita sibuk memenjarakan keilahian dalam angka-angka, sementara lupa bahwa iman bukanlah soal presisi kalkulasi, melainkan kepasrahan hati. Sebab di atas segala hiruk-pikuk logika kita yang terbatas, Tuhan berdiri tegak tanpa membutuhkan kompas. Dia adalah Sang Arsitek Semesta yang tak akan pernah tersesat dalam rimba hitungan manusia; karena bagi-Nya, setiap detik adalah kebenaran, dan setiap niat adalah peta yang lebih terang daripada cahaya bulan mana pun.

Perbedaan-perbedaan yang muncul di antara kita sejatinya adalah bisikan halus alam semesta, sebuah pengingat abadi bahwa kebenaran itu berlapis dan menyimpan banyak wajah. Ia laksana spektrum pelangi; meski mata kita menangkap rona yang berbeda, semuanya bersumber dari satu cahaya putih yang murni dan tak terbagi. Di sinilah letak kematangan spiritual kita, yakni sebuah kedewasaan beriman yang menyadari bahwa esensi berislam bukanlah tentang paksaan untuk menjadi seragam, melainkan sebuah seni untuk tetap seirama dan harmoni di tengah megahnya keragaman.

“Jika hari ini engkau bersujud dan aku masih berpuasa, bukankah kening kita tetap menyentuh bumi yang sama? Bukankah doa yang kita bisikkan bermuara pada Langit yang satu?”

Jembatan Kasih di Atas Jurang Perbedaan

Oleh karenanya, jadikanlah momentum perbedaan ini sebagai hamparan madrasah bagi jiwa untuk menimba kearifan. Hendaknya kita menanggalkan syahwat untuk merasa paling benar dan berhenti menudingkan telunjuk ke arah liyan. Karena di hadapan Sang Maha Cinta, kebenaran yang paling benderang hanya dimiliki oleh mereka yang dadanya seluas samudra, yang mampu menerima keberagaman saudaranya sebagai titah keindahan yang tak terelakkan. Biarkanlah matahari dan bulan menempuh garis edarnya masing-masing, meski mereka melahirkan hitungan yang tak senada di atas kertas-kertas fana. Sebab, hakikat persaudaraan tidaklah tertulis pada angka, melainkan pada aliran darah yang membawa napas kasih sayang yang satu.

Ketahuilah, kemuliaan Idul Fitri justru bertahta pada luasnya samudra jiwa; saat jemari yang telah menyentuh kemenangan hari ini memberikan teduh bagi mereka yang masih bersimpuh dalam puasa, dan mereka yang menanti esok hari memandang dengan penuh takzim kepada jiwa-jiwa yang telah lebih dulu berbuka. Dalam perbedaan waktu tersebut, kita sejatinya sedang merayakan satu Tuhan yang sama, di atas bumi yang tak pernah terbagi. Maka di altas itulah, ‘Selaras Jiwa’ menanggalkan kefanaannya sebagai slogan duniawi dan bersalin rupa menjadi sebuah ritus cinta yang transenden. Ia adalah sebuah pengabdian rasa yang melangit, meninggalkan daratan logika yang kering, menuju sebuah dimensi di mana hanya detak nurani yang diakui sebagai kebenaran sejati.

Manakala fajar Idul Fitri menyingsing dalam perbedaan waktu yang membelah cakrawala, sesungguhnya ia hadir sebagai undangan sunyi bagi kita untuk merajut kembali serpihan hati yang tercerai-berai. Sebab, esensi kemenangan yang hakiki tidaklah bertahta pada keunggulan metodologi atau hitungan angka, melainkan pada kejayaan nurani yang berhasil meluruhkan tirani ego—sebuah keberanian untuk menanggalkan jubah kebenaran tunggal demi memeluk hangatnya persaudaraan.

Meski jemari kita menunjuk pada tanggal yang berbeda di ufuk yang satu, biarlah detak jantung kita tetap berirama dalam frekuensi syukur yang sama. Mari kita basuh segala ego dengan pancaran senyum paling ikhlas, sebab di pelataran langit, kemuliaan tidak diukur dari siapa yang lebih dahulu bersujud atau siapa yang belakangan merayakan kemenangan. Di hadapan Sang Khaliq, kasta tertinggi hanya milik mereka yang membalut jiwanya dengan sutra takwa, bukan mereka yang terpaku pada fana-nya angka dan penanggalan.

*Dosen Tetap di Universitas Qamarul Huda Badaruddin dan Founder HDF GROUP

https://hamjahdiha.org/wp-content/uploads/2024/04/Tambahkan-judul-1-768x480.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 728x250