Oleh : Hamjah Diha*
Saya sudah mengajar di perguruan tinggi hamper 13 tahun (mulai dari tahun 2013 hingga sekarang), saya menulis sebuah tulisan ini, tidak ada dorongan yang lebih kuat melainkan rasa kegelisahan yang mendalam atas apa yang sedang menimpa rumah besar yang bernama lembaga pendidikan. Kegelisahan itu berawal dari proses akreditasi, dimana para dosen sibuk mengurus kertas sertifikat. Jika kita melangkah menelusuri koridor-koridor sekolah dan perguruan tinggi hari ini, ada sebuah pemandangan yang menyayat nurani akademik kita: bau tinta sertifikat dan tumpukan kertas borang sering kali jauh lebih menyengat ketimbang harum buku-buku yang dibaca dan didiskusikan dengan hangat. Ada kepanikan bertubi-tubi di wajah para pendidik kita, namun kepanikan itu bukan bersumber dari kegelisahan intelektual atau pencarian kebenaran, melainkan dari ketakutan akan keterlambatan menata folder, menumpuk bukti fisik, dan merapikan klausa demi klausa demi sebuah penilaian formalitas.
Pendidikan kita, yang sejatinya dirancang sebagai laboratorium kesadaran humanistik dan tempat penyemaian nalar kritis, perlahan tapi pasti telah bergeser menjadi sebuah panggung teater administrasi yang kolosal. Di atas panggung itu, semua orang sibuk bersolek, merias laporan, dan memoles citra demi satu tujuan sakral: meraih akreditasi bertuliskan nilai unggul. Fenomena tragis inilah yang saya sebut sebagai Fetisisme Akreditasi.
Ontologi Fetisisme: Ketika Benda Mati Disembah
Istilah fetishism mengakar kuat dalam tradisi kritik sosial dan budaya. Ia menggambarkan suatu kondisi ketika sebuah benda mati diberi kesakralan magis, disembah, dan diperlakukan seolah-olah memiliki nyawa serta nilai mandiri di luar fungsi aslinya. Dalam konteks hari ini, ketika akreditasi tidak lagi diposisikan sebagai cermin evaluasi diri yang jujur, melainkan diangkat menjadi berhala yang disembah demi prestise, pencitraan, dan publisitas politik-ekonomi, pada saat itulah ruh pendidikan sejatinya sedang sekarat di balik tembok-tembok megahnya. Pendidikan yang mengalami fetishisasi dokumen ini sejatinya sedang mengulang tragedi kemanusiaan yang pernah dipotret secara mendalam oleh Paulo Freire dalam mahakaryanya, Pedagogy of the Oppressed. Freire menegaskan: Education thus becomes an act of depositing, in which the students are the depositories and the teacher is the depositor.
Hari ini, dalam cengkeraman fetisisme akreditasi, sindrom penyetoran yang dikritik Freire itu bertransformasi ke dalam bentuk yang lebih birokratis dan mekanis: institusi sibuk menyetor ribuan lembar berkas dan dokumen digital kepada tim penilai, sementara siswa dan mahasiswa tetap ditinggalkan sebagai petak-petak kosong yang hanya dihadirkan sebagai deretan statistik kuantitatif untuk melengkapi tabel borang.
Alienasi Pendidik dan Pembangkrutan Makna Mutu
Dampak paling mematikan dari pergeseran orientasi ini adalah lahirnya alienasi massal di kalangan pendidik. Ketika tolok ukur keunggulan lembaga bergeser dari “apa yang dipahami dan dihayati oleh murid” menjadi “apa yang terbukti secara administratif di atas kertas”, para pendidik kita mengalami pembentukan identitas ganda yang menyiksa. Mereka yang seharusnya bertindak sebagai pencetus imajinasi, penuntun moral, dan pemantik daya kritis, mendadak dituntut untuk bertransformasi menjadi juru ketik dan pengumpul bukti fisik. Waktu, energi, dan daya hidup para dosen dan guru yang seharusnya digunakan untuk membaca literatur terbaru, merancang metodologi pembelajaran yang membebaskan, atau menemani anak didik yang sedang tertinggal secara akademis, habis terserap dalam pusaran ketik-mencetak, memindai dokumen, dan menyusun instrumen akreditasi. Ini adalah sebuah bentuk pemborosan sumber daya intelektual terbesar dalam sejarah modern kita.
Gejala ini menandai pengkerdilan makna mutu itu sendiri. Mutu tidak lagi dirasakan melalui percikan daya kritis dan keberanian berpikir independen di ruang-ruang kelas, melainkan diukur semata-mata dari ketebalan jilid dokumen dan kerapian tata kelola folder. Nilai unggul berpredikat A menjadi topeng indah yang menutup wajah buram pembelajaran yang sesungguhnya dingin, mekanik, hampa, dan tanpa jiwa.
Pelembagaan Agama Baru dan Kehilangan Esensi
Situasi dehumanisasi ini mengingatkan kita pada kegelisahan pemikir besar Ivan Illich. Dalam buku monumentalnya, Deschooling Society, Illich telah melayangkan peringatan keras mengenai bahaya ketika kelembagaan formal memonopoli dan menggantikan esensi sejati dari proses belajar: “Institutionalized learning aims of course at certification… School has become the world-religion of a modernized proletariat, and makes futile promises of salvation to the poor of the technological age.”
Peringatan Illich tersebut terasa kian nyaring dan benderang hari ini. Ketika sertifikasi, akreditasi, dan stempel status dijadikan “agama baru” dalam dunia pendidikan, lembaga-lembaga kita memberikan janji-janji keselamatan mutu yang palsu. Padahal, yang sesungguhnya sedang terjadi di balik layar adalah penyeragaman buatan yang melumpuhkan keberanian untuk berbeda dan mematikan kebebasan berpikir.
Bahaya Budaya Kejujuran Buatan
Ancaman paling mengerikan dari fetisisme akreditasi ini adalah lahirnya budaya kejujuran buatan (artificial honesty). Demi mengejar nilai akreditasi yang sempurna, lembaga pendidikan sering kali terjebak dalam fabrikasi kegiatan dan manipulasi realitas. Seminar-seminar akademik diselenggarakan bukan lagi karena dorongan dahaga ilmiah, melainkan demi menggugurkan poin borang; penelitian diproduksi secara massal bukan untuk memecahkan krisis kemanusiaan atau ketimpangan sosial, melainkan demi mengejar kuota publikasi dan indikator kinerja utama.
Anak-anak didik kita akhirnya tumbuh dan bernapas dalam lingkungan yang secara implisit mengajarkan bahwa formalitas dan keindahan permukaan jauh lebih penting daripada kedalaman isi. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para guru dan dosen kasak-kusuk menyiapkan “pertunjukan teater singkat” saat tim asesor datang berkunjung, untuk kemudian kembali ke rutinitas pembelajaran yang menjenuhkan dan mengabaikan nilai setelah rombongan penilai berlalu.
Pragmatisme birokratis ini secara perlahan namun pasti membunuh keindahan berpikir bebas. Pendidikan humaniora, filsafat, sastra, dan ilmu-ilmu murni yang membutuhkan proses perenungan panjang serta tidak selalu mampu menghasilkan dampak kuantitatif instan, perlahan disingkirkan dan dianaktirikan karena dianggap tidak memberikan kontribusi angka yang signifikan pada indikator kinerja institusi.
Seruan Aksi: Mengembalikan Ruh Pendidikan
Jika praktik perberhalaan ini terus kita biarkan tanpa perlawanan pemikiran, maka gedung-gedung sekolah dan universitas di negeri ini hanya akan menjadi pabrik-pabrik stempel yang megah di luar namun berongga dan rapuh di dalam. Kita akan memanen satu generasi yang sangat mahir memenuhi formulir, ahli menyusun laporan kegiatan, namun gagap dan kaku saat dihadapkan pada kerumitan realitas sosial serta krisis moral kemanusiaan.
Oleh karena itu, dari podium ini, saya menyampaikan seruan kebudayaan dan akademik: Sudah saatnya kita membongkar berhala akreditasi ini dan mengembalikannya ke posisi yang wajar! Akreditasi hanyalah alat perkakas evaluasi, bukan tujuan akhir dari pendidikan; ia adalah kompas pelengkap, bukan arah perjalanan itu sendiri. Mutu sejati dari sebuah pendidikan tidak akan pernah bersemayam di lembaran kertas berkop emas atau sertifikat berbingkai indah, melainkan pada nyala api rasa ingin tahu yang tak pernah padam di dalam dada murid-murid kita!
Membebaskan pendidikan dari fetisisme akreditasi berarti berani mengembalikan ruang kelas menjadi sanggar kebudayaan, laboratorium pemikiran, dan tempat persemaian jiwa yang merdeka. Sebab pada akhirnya, sejarah peradaban manusia tidak akan pernah diukur dari seberapa tinggi predikat peringkat yang tertempel di dinding-dinding institusi, melainkan dari seberapa dalam kedewasaan nalar, ketajaman nurani, dan kemanusiaan yang berhasil kita hidupkan di dalamnya
*Dosen Tetap UNIQHBA dan Founder HDF GROUP

