Randa Anggarista*
kabarmoe.com—Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki keragaman budaya, baik dari segi sistem kepercayaan hingga sistem pengetahuan lokal. Kebudayaan tersebut mencerminkan karakter, cara pandang dan pola kehidupan masyarakatnya. Sejauh ini, kebudayaan terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan zaman dan hadirnya teknologi modern. Perkembangan dunia ini tentu membawa dampak positif karena dapat menjadi peluang besar bagi pengembangan kebudayaan agar lebih dikenal oleh khalayak ramai. Namun di satu sisi, perkembangan tersebut juga perlu diantisipasi karena dikhawatirkan membawa manusia ke dalam kebahagian semu dan mengikis nilai-nilai adiluhung kebudayaan.
Maka berbagai upaya perlu dilakukan sebagai alternatif untuk mengeksplorasi kebudayaan yang belum muncul ke permukaan atau merevitalisasi kebudayaan yang telah berada di ambang kepunahan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan salah satu jalan yaitu inventarisasi dan dokumentasi pengobatan tradisional di tengah hadirnya salah satu jenis corak kebudayaan ini di tengah masyarakat Sasak sejauh ini. Meski berada di tengah ancaman deru modernisasi, masyarakat setempat masih mengupayakan pengobatan tradisional sebagai alternatif untuk sampai kepada kata “penyembuhan.”
Dari hasil kajian yang telah dilakukan sejauh ini dan ditopang oleh Program Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Kementerian Kebudayan Republik Indonesia Tahun 2025, penulis berhasil memotret dan menginventarisir pola pengobatan tradisional Sasak. Keunikan pengobatan tradisional Sasak terletak pada keterlibatan kaum perempuan sebagai belian—orang yang diyakini memiliki pengetahuan dan mampu memberikan pelayanan pengobatan tradisional ini. Artinya, pengobatan tradisional Sasak memberikan proporsi yang sama antara posisi laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak sekadar sebagai objek, tetapi motor penggerak dalam arus pemajuan dan pengembangan kekayaan budaya Sasak. Keunikan berikutnya adalah hadirnya tanaman lokal sebagai bahan utama untuk meramu obat tradisional.
Hal ini mengisyaratkan bahwa jauh sebelum dunia berkembang, orang-orang Sasak telah memiliki wawasan yang melebihi pengetahuan modern dan memberikan sumbangsih terhadap perkembangan pengobatan dalam dunia modern. Misalnya, jae beaq (jahe merah), kunyiq (kunyit), tunggak sere (batang sereh), buaq (pinang), poton daun lekoq (pucuk daun sirih), hingga babak jowet (kulit pohon jamblang) sebagai bahan utama meramu jamu tradisional Sasak. Hal ini sebagai bukti bahwa orang-orang Sasak telah memproyeksikan bahwa tanaman di sekitar lingkungan memiliki nilai yang multifungsi bagi penunjang kesehatan manusia.
Di samping itu, orang-orang Sasak, tidak sekadar piawai memilah tanaman lokal, tetapi memiliki jiwa seni karena adanya mantra-mantra pengobatan yang diyakini memiliki nilai magis dan mampu memberikan pengaruh bagi penggunanya. Menurut Amaq Rumidah—salah seorang belian Sasak, mengatakan bahwa mantra tersebut umumnya dikutip dari Al-Qur’an sebagai bentuk penghambaan diri manusia, dan harapan kepada Allah (Neneq Kaji Saq Kuase) agar diberikan kesembuhan. Maka, doa yang disampaikan melalui mantra berada dalam hierarki tertinggi pengobatan tradisional Sasak.
*Peneliti dan Dosen Universitas Qamarul Huda Badaruddin – Lombok Tengah

