Hamjah Diha*
Angin sepoi – sepoi yang menemani perjalananku, terasa begitu lembut dan menenangkan. Seolah angin itu mengelus wajahku dengan sentuhan ringan, membelai dengan kehangatan yang tidak menyakitkan!. Suara desiran angin yang berhembus lembut, berirama pelan, memberi rasa damai dalam setiap langkahku!. Setiap hembusannya, seperti membawa kesejukan yang menyegarkan, mengusir lelah dan seolah memberi energi baru dalam perjalananku.
Perjalanan dari Kampung Diha menuju Dusun Woro, Kecamatan Parado, pasti penuh dengan kenangan dan harapan. Harapan untuk bertemu teman lama yang hampir 20 tahun tak bertemu. Bayangkan, perjalanan yang diawali dengan rasa antusias dan sedikit rindu, menandai perjalanan yang tak hanya fisik, tetapi juga emosional.
Kampung Woro adalah sebuah kampung yang mungkin cukup tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Jalanan yang mengarah ke Dusun Woro bisa jadi berliku-liku, dengan pemandangan alam yang memanjakan mata—deretan pohon, sawah, atau pegunungan yang jauh di horizon. Sepanjang perjalanan, angin yang sejuk dan udara segar mungkin membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Sesekali, dalam benakku, akan bertemu dan bersilahturrahmi dengan penduduk setempat yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka. Aktivitas petani, berkebun, dan sejenisnya, memberikan kesan kehidupan yang sederhana dan penuh ketenangan. Mungkin ada rasa nostalgia yang muncul saat berjumpa teman semasa SMP. Semua itu membawa kenangan tentang tawa, cerita, dan kebersamaan yang dulu pernah ada.
Saat mendekati Dusun Woro, hati mulai berdebar. Mengingat teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ada rasa penasaran, apakah dia masih seperti dulu? Apakah ada perubahan yang terlihat pada dirinya?, apa dia masih ingat saya?, apa saya masih ingat dia?, ataukah dia sudah berubah dalam banyak hal?.
Tanda tanya yang selalu muncul di hati dan pikiranku mungkin menggambarkan perasaan keraguan, kebingungan, atau ketidakpastian yang sedang saya alami. Ketika tanda tanya itu menghiasi pikiran, bisa jadi itu adalah refleksi dari pertanyaan-pertanyaan dalam hidup yang belum terjawab disebabkan karena kami belum pernah bertemu selama 20 tahun lamanya.
Setibanya di Dusun Woro, suasana mungkin terasa lebih dekat dengan alam, dengan kehidupan yang lebih tenang dibandingkan dengan keramaian kota. Suasana pantai yang indah nan tenang. Pemandangan yang memukau dan menenangkan jiwa. Pasir putih yang lembut menghampar luas, seolah-olah membentang tanpa ujung. Ombak yang datang dengan perlahan, berdesir lembut menyentuh pantai, menciptakan suara yang menenangkan seolah melodi alam. Di kejauhan, air laut yang biru kehijauan berbaur dengan langit cerah, menciptakan perpaduan warna yang harmonis.
Angin laut yang sepoi-sepoi berhembus dengan lembut, membawa aroma segar air laut yang menyejukkan. Tumbuhan tropis dengan daun-daun hijau berayun perlahan, ikut menari mengikuti irama angin. Di atas langit, burung-burung terbang bebas, kadang-kadang terbang rendah, seakan menikmati kebebasan mereka.
Suasana begitu damai, membuat setiap orang yang berada di sana merasa terhubung dengan alam, seolah dunia ini hanya ada untuk memberi ketenangan. Tidak ada keramaian yang mengganggu, hanya suara alam yang berpadu sempurna dengan suasana yang damai dan tenang. Pantai ini seperti sebuah tempat persembunyian dari kehidupan yang sibuk, memberikan ruang untuk beristirahat, merenung, dan menikmati kedamaian yang jarang ditemukan di tempat lain.
Akhirnya tiba di Dusun Woro, Teman itu sudah lama menunggu kedatangan ku. Menunggu dengan penuh harapan. Begitu bertemu, momen itu terasa penuh dengan kehangatan yang seolah melingkupi seisi tubuh. Pelukan pertama seperti menyampaikan betapa lamanya jarak memisahkan, tapi kini semuanya terasa begitu dekat. Ada canda tawa yang terdengar begitu alami, seakan tidak ada waktu yang terlewatkan. Senyum-senyum yang terukir di wajah seakan mengingatkan akan kenangan indah di masa lalu, yang dulu sering kali menghiasi hari-hari bersama. Cerita-cerita masa lalu kembali mengalir dengan ringan, seiring berjalannya waktu, membawa kita ke dalam perjalanan panjang yang pernah dilalui bersama. Ada kebahagiaan dalam kehadiran satu sama lain, dan meskipun waktu terus berjalan, momen itu tetap terasa seperti sebuah detik yang abadi.
Cerita-cerita masa lalu yang kembali mengalir dengan ringan menggambarkan kenangan yang seperti arus sungai yang tenang, mengalir tanpa tergesa-gesa, namun tetap membawa kesan mendalam. Waktu yang berjalan dengan santai memberi ruang bagi memori-memori lama untuk kembali muncul, seperti percakapan hangat yang menghidupkan kembali detik-detik indah di masa lalu.
Seiring dengan itu, secangkir kopi yang diseduh menambah suasana yang lebih nyaman, seakan menjadi teman yang sempurna untuk melengkapi momen nostalgia kami tersebut. Setiap tegukan kopi yang hangat bisa terasa seperti pelukan lembut dari waktu, mengingatkan pada berbagai momen yang pernah ada. Semua bercampur menjadi satu, menenangkan jiwa sembari meresapi kedamaian yang ditawarkan oleh waktu yang berlalu begitu perlahan.
Cerita masa lalu yang hadir begitu ringan, tidak terburu-buru, mungkin karena waktu telah mengajarkan kita untuk lebih menghargai kenangan yang ada, tak peduli seberapa sederhana atau rumitnya cerita itu. Dan di dalamnya, ada kedamaian—membiarkan cerita itu mengalir, seiring seduhan kopi yang menambah kehangatan setiap kisah yang terungkap.
Perjalanan ini bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi juga tentang perjalanan kenangan yang terasa kembali hidup, seiring dengan pertemuan yang penuh haru dan kebahagiaan. Setiap langkah, setiap detik yang berlalu, mengukir kenangan yang membekas dalam hati. Ketika kita melangkah ke tempat yang familiar, setiap sudut dan setiap jalan terasa seperti panggilan dari masa lalu, membawa kembali kenangan yang terlupakan. Perasaan itu seolah hidup kembali, membangkitkan tawa dan air mata yang pernah ada.
Namun, yang paling membekas bukan hanya tempat atau waktu, tetapi pertemuan-pertemuan yang terjadi sepanjang perjalanan. Pertemuan dengan orang yang pernah menjadi bagian dari cerita hidup kita, yang kini hadir dengan senyum dan pelukan hangat, penuh dengan rasa haru dan kebahagiaan. Semua yang pernah hilang seolah kembali terjalin, mengisi ruang kosong yang lama tak terasa.
Perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang menemukan kembali bagian-bagian dari diri kita yang sempat terlupakan. Dan ketika kita akhirnya sampai, kita sadar bahwa tujuan sejati dari perjalanan ini bukanlah tempat, melainkan pengalaman dan hubungan yang kita bangun sepanjang jalan. (Bersambut)
Direktur PENA INSTITUTE & HDF GROUP

