Site icon Kabar_Moe

Disorientasi Pembangunan Kebudayaan di Bumi Gora

Muhammad Sahrain*

Barangkali hampir setiap masyarakat NTB, percaya bahwa pembangunan NTB harus menyentuh sisi esensi dari sebuah kebudayaan. Melalui tulisan ini, penulis mencoba mengupas pembagunan kebudayaan di Bumi Gora. Lima tahun terakhir para pengamat dan pemerhati budaya mulai mengerucut pandanganya tentang NTB dalam konsep kebudayaannya. Sampai pada akhirnya, pembangunan kebudayaan NTB memiliki payung hukum yang pasti. Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah Prov NTB Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Perda tersebut  dimaksudkan untuk memberikan jaminan keadilan dan kepastian hukum dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan daerah.

Kita sama-sama mengatahui, NTB kaya akan kebudayaan dan produk kebudayaannya. Yang tercermin dalam objek kebudayaanya; tadisi lisan, cagar budaya, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan indikasi geografis. Tapi sayangnya, sejauh ini kajian-kajian tentang arah pembangunan tentang domain ini masih belum mengarah kepada pengartian secara modern. Sekurang-kurangnya itu menurut saya. Saya melihat, akselerasi pembangunan kebudayaan masih sebatas “berkesenian dan berpakaian bercorak adat”. Sehingga arah pembangunannya tidak memiliki orientasi menuju pembentukkan mental kebudayaan bernilai luhur dalam menghadapi peradaban masyarakat dunia.

Euforia pembangunan kebudayaan di Bumi Gora ini terkesan pragmatis, menyampingkan esensi, gerak majunya sebatas eksistensi. Kebudayaan hanya dilihat sebatas euforia berkesenian dan berpakain adat. Memang, kita tidak bisa menaifkan eksistensi sebuah kebudayaan melalui produk kebudayaan, namun jauh lebih mendasar adalah esensi dari sebuah kebudayaan itu sendiri, di sinilah nilai berperan penting dalam pembangunan peradaban manusia yang didasari akal sehat. Pada dasarnya kebudayaan memiliki nilai-nilai yang senantiasi diwariskan, ditafsirkan dan dilaksanakan seiring perubahan sosial kemasyarakatan. 

Pelaksanaan nilai-nilai kebudayaan merupakan legitimasi masyarakat terhadap kebudayaan. nilai-nilai inilah yang menjadi sarana pembangunan NTB seharusnya. Kita akan memahami esensi dari kebudayaan, setelah kita mampu menerjemahkan nilai-nilai. Transformasi nilai adalah hal utama dan pertama. Melalui kebudayaan kita menerjemahkan nilai dengan melihat peradaban hari ini, dan harapan hidup di masa akan datang. Saya sepakat gagasan yang sampaikan oleh Moh Yamin, salah satu tokoh kebudayaan Sasak bahwa “kebudayaan adalah masa lalu untuk sekarang, masa sekarang untuk masa depan, dan terus bergerak maju sesuai corak zaman”. Kutipan ini berlaku secara universal. Dimana gagasan ini memberi pesan tersirat bahwa proses menerjemahkan nilai dengan mendesain konstruksi peradaban hari ini guna mendorong terwujudnya proses internalisasi di masyarakat adalah sangat utama. Sehingga transformasi nilai dari sebuah kebudayaan dipandang esensial keberadaannya.
Untuk memahami eksistensi dan esensi pembangunan kebudayaan di NTB, penting memahami orientasi pembangunannya. Contoh kasus yang sederhana, membangun gedung-gedung menjulang tinggi, pantai-pantai diperindah, pengadaan pakaian-pakaian adat, menyelenggaran kegiatan kesenian, itu bukanlah hal yang sulit dikerjakan. Stok anggaran kebudayaan dapat menjamin pembangunan itu berlangsung. Namun ini bukanlah persoalan utama, bukan pula mempersoalkan bangunan-bangunan yang telah direalisasi dan perkotaan ditata rapi, bagaimanapun inilah peruntukkan yang real bagi masyarakat NTB. Persoalanya adalah pernahkah kita sadari bahwa membangun itu semua tidak semudah membangun dan membentuk manusia yang akan memanfaatkannya dengan baik, memeliharanya dengan penuh tanggung jawab, menghadirkan manfaat yang luas dan berkhidmat dari semua pembangunan fisik tersebut. 
Memberi pekerjaan kepada seseorang adalah hal yang mudah, sangat mudah. Tetapi pernahkah kita sadari bahwa membuat orang bekerja dengan kecintaanya terhadap pekerjaan itu jauh lebih sulit. Memiliki banyak uang, lalu memberi kepada seseorang itu juga hal ringan, sekali lagi bahwa membuat orang bertanggung jawab pada uang itu adalah persaoalan yang tidak mudah. Itulah sebabnya kenapa esensi lebih penting diperhatikan sebagai visi besar dan utama dalam membangun kebudayaan NTB. Inilah orientasi yang seharusnya menjadi titik fokus bersama.
Transformasi dan Integrasi Nilai Luhur Kebudayaan sifatnya tidaklah stagnan. Jika sebuah kebudayaan bersifat stagnan, maka dapat dikatakan tidaklah lebih dari catatan peristiwa masa lampau. Namun akan menjadi peristiwa kebudayaan manakala terus beriringan dengan sikap dan perilaku manusia. Perbedaan keduanya dari sifatnya, peristiwa sejarah terjadi di masa lampau, nyata dan tidak bisa berubah-ubah. Peristiwa kebudayaan bisa terjadi di masa lampau namun terus hidup beiringan dengan manusia melalui pikiran dan lakunya. Indikasinya bisa berubah-rubah, sifatnya dinamis. Sikap masyarakat terhadap kebudayaan tidaklah monoton.

Jikalau kita monoton memaksakan diri dengan konsep masa lalu, sebuah produk kebudayaan dengan sendirinya tergerus oleh zaman. Kita tidak bisa mengandalkan dalil klasik bahwa kebudayaan hilang karena modernitas. Modernitas adalah hukum peradaban, kehadiraanya tidak bisa dikendalikan, sifatnya dinamis seiring kemampuan berpikir manusia. Maka dari itu, penting kita pahami bahwa peran kebudayaan sebagai penafsir nilai-nilai kedalam laku adalah esensial dalam pembangunan peradaban, terbuka menghadapi zaman dengan prinsip nilai luhur dan sumber nilainya.
Lalu bagaimana sikap kita dalam hal ini? Pembangunan kebudayaan NTB harus mempertimbangkan esensi dari sebuah kebudayaan. Pembangunan sebatas berkesenian, berpakaian berbau adat hanyalah permukaan yang condong ke arah yang praktis, penjaga dan pewaris kebudayaan ini semestinya menjadi fokus bersama. Sekali lagi, transformasi dan integrasi nilai-nilai luhur dari sebuah kebudayaan adalah utama dan pertama dalam pembangunan kebudayaan NTB. 
Lalu apa yang seharusnya dilakukan ? Hal ini pernah didiskusikan oleh penulis dan para pemerhati budaya di NTB. Diantaranya Rowot Nusantara Lombok. Mereka memandang, pemerintah bersamaan dengan para pegiat budaya NTB, bersinergi dalam merumuskan arah transformasi dan integrasi nilai-nilai tersebut. Melakukan kajian secara mendalam seluruh kebudayaan NTB, menggali nilai-nilai luhur, membaca kondisi hari ini dengan nilai-nilai sebagai pedoman bersama, lalu secara bersamaan bersinergi merumuskan resep pembangunan kebudayaan, rumusan-rumusan ini ditransformasikan ke berbagai infrastruktur di bawah kekuasaan penguasa, melalui program, pendidikan, ekonomi dan lain-lain. Itu semacam harapan bersama. Harapan ini mulai terwujud dengan terbentuknya Dewan Kebudayaan NTB. Pun kita berharap organisasi ini tidak bergerak karena project-based.
Melihat fenomena arus peradaban masa mendatang, sikap kita sebagai masyarakat NTB, sejatinya sangat menghormati kebudayaan. Konsep-konsep kebudayaan lokal harus menjadi perisai ketika terjadi benturan nilai. Nilai-nilai luhur harus hidup dalam jiwa ke-NTB-an. Ruang-ruang kebudayaan harus berorientasi ke arus tersebut, dibangun dengan transformasi nilai yang kuat dilandasi nilai luhur dan budi halus. Dari sini, wujud idealnya sebuah kebudayaan membentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dengan sifatnya yang abstrak pun hidup dalam diri masyarakat. Sehingga dari wujud ini kebudayaan terletak pada sikap dan pikiran masyarakatnya dilandasi oleh nilai-nilai luhur. Letak kebudayaan inilah yang esensial dalam pembangunan NTB, membuka diri terhadap peradaban global. Kolabolasi kebudayaan yang terletak pada pikiran dan tindakan ini menciptakan sistem sosial melalui interaksi-interaksi berdasarkan adat dan tata kelakuan.

Harus kita pahami bersama, salah satu tolak ukur kekuatan sebuah bangsa adalah tidak tercerabut dari akar nilai luhurnya. Beranjak dari sini, kita perlu adanya formulasi pembangunan kebudayaan, Provinsi NTB mengutamakan transformasi dan integrasi nilai dengan harapan bahwa esensi kebudayaan menjadi perisai dalam eksistensinya berhadapan dengan arus global.

Dosen Tetap Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Exit mobile version