Site icon Kabar_Moe

Rimpu; Identitas Budaya Dou Mbojo (4)

Rimpu, dengan balutan kain tenun khas Mbojo yang indah nan mempesona, mengisahkan tentang kisah masa lalu, tentang perempuan-perempuan yang menjaga marwah, kehormatan, dan adat dalam setiap langkah mereka. Namun, kini! seperti embun pagi yang menghilang diterpa mentari, keindahan rimpu perlahan-lahan tersisih oleh arus zaman. Kehidupan modern yang serba cepat menenggelamkan tradisi ini ke sudut-sudut kenangan, seolah menjadi bayang-bayang yang terlupakan. Di pasar-pasar dan jalanan kota, kini jarang terlihat gadis Mbojo yang dengan bangga mengenakan rimpu. Gadis Mbojo lebih tertarik pada gemerlap mode global yang menyilaukan, meninggalkan tenunan tangan yang dulunya dihormati sebagai mahakarya cinta dan kesabaran. Gadis Mbojo lebih bangga mengenakkan pakian mode daripada menggenakan rimpu.

“Kamu kemana aja?” Tanya Ayu

“Biasa cari pengalaman di luar daerah!” jawab pemuda tampan itu

Dalam keheningan yang ramai, di sudut ruang yang tak terlalu mencolok, dua insan tampak tenggelam dalam percakapan yang begitu hangat. Diskusi tentang peradaban yang perlahan-lahan teretelan bumi. Kata-kata kedua insan itu mengalir, berkelindan dengan gelombang perasaan dan pemikiran yang saling bersahutan. Mata mereka sesekali berbinar, seakan menemukan kilau makna di antara tiap jeda ucapan. Pemuda itu berbicara dengan penuh semangat, mengisahkan pahit-manis perjalanan hidupnya di perantuan—tentang langkah-langkah yang pernah ragu, tentang harapan yang sempat pudar, namun kembali menyala. Lawan bicaranya menyimak dengan saksama, sesekali mengangguk, seolah memahami setiap gejolak yang tersirat dalam suara dan sorot mata pemuda itu.

“Dunia perantauan itu ada asiknya, dan ada juga buruknya, Ayu!”

“Kenapa bisa begitu?”

“Dunianya bebas. Bebas melakukan apa saja”

Diskusi mereka meluas, melampaui batas pengalaman pribadi. Mereka menyusuri lorong-lorong pemikiran, menelaah kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, berbagi tawa dan sesekali terdiam dalam renungan. Seakan dunia mengerut di sekitar mereka, membiarkan waktu berlalu tanpa gangguan, hingga yang tersisa hanyalah mereka dan obrolan yang kian dalam. Seiring waktu yang berputar tanpa lelah, percakapan mereka mengalir bagaikan sungai yang tak mengenal muara. Kata demi kata melompat riang, menari di udara, menyulam pemikiran menjadi jalinan makna yang semakin dalam. Tawa kecil terselip di antara jeda, sementara sorot mata menyiratkan keasyikan yang tak bertepi.

Tanpa mereka sadari, sang mentari yang sejak tadi mengintip dari celah dedaunan perlahan mulai undur diri. Cahayanya meredup, merona keemasan, seakan mengucap selamat tinggal dengan kelembutan seorang ibu yang menidurkan anaknya. Langit yang tadinya biru cerah kini berkilau jingga, berpadu dengan semburat merah muda yang membelai cakrawala. Dan di saat embusan angin sore mulai berbisik, mereka pun tersadar—bukan hanya kata yang berlalu, tetapi juga waktu yang diam-diam melangkah pergi. (bersambung)

Exit mobile version