Hamjah Diha*
Perempuan adalah pilar dari kebudayaan yang terbentuk dari akar sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai yang telah diwariskan turun-temurun. Dalam kesehariannya, kaum perempuan menjadi simbol dari keberlanjutan tradisi, baik melalui cara berpakaian, bahasa, hingga cara mereka merawat alam dan kehidupan sosial. Namun, seiring dengan masuknya nilai-nilai baru yang lebih universal, banyak perempuan yang terpaksa meninggalkan identitas tersebut. Seperti daun yang terlepas dari pohon tempat ia tumbuh, kaum perempuan ini mulai terasing dari budaya mereka sendiri. Mereka yang dulu dengan bangga mengenakan pakaian tradisional, kini lebih memilih busana yang lebih modern dan praktis. Mereka yang dulu merawat kerajinan tangan dan memelihara kekayaan kuliner lokal, kini lebih memilih pekerjaan yang terhubung dengan dunia industri dan teknologi.
Namun, dalam setiap kehilangan, ada seberkas harapan. Meski identitas mereka mulai memudar, ada perempuan-perempuan yang berjuang untuk menghidupkan kembali warisan budaya, menanamkan nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan memberikan contoh bagi generasi muda. Mereka menjadi penyeimbang, mencoba merangkai kembali pecahan-pecahan identitas yang hilang dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, agar tidak hilang begitu saja.
Hilangnya kaum perempuan yang menjaga identitas lokal adalah sebuah tragedi yang sekaligus menunjukkan ketangguhan mereka dalam menghadapi perubahan zaman. Sebuah kisah tentang pelestarian yang penuh perjuangan, namun juga tentang keberanian untuk terus menjaga jejak-
jejak yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.
“Aku tidak takut dengan derasnya dunia industri dan teknologi, yang aku takutkan adalah terkikisnya warisan budaya!”
Di tengah keresahan yang menyelubungi hatinya, Ayu, bagai terperangkap dalam riak-riak gelombang kegelisahan yang tak kunjung reda, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan di hadapannya. Pemuda itu, seperti matahari yang memecah awan kelabu, hadir dengan tatapan penuh ketulusan yang mampu meredakan kegundahan dalam dada. Langkahnya tenang, bagaikan angin yang menyusuri lembah, membawa kesejukan yang menyentuh jiwa Ayu. Tanpa sepatah kata, tatapan mereka bertemu, dan dalam hening itu, Ayu merasa seolah seluruh dunia berhenti berputar. Pemuda itu bukan hanya tampan fisiknya, tetapi juga aura kedamaian yang dipancarkan melalui sorot matanya yang dalam, seolah menawarkan pelabuhan bagi Ayu yang tengah terombang-ambing oleh rasa resah yang tak terungkapkan.
“Hai!” pemuda itu menyapa Ayu
“Hai, juga” jawab ayu penuh lembut
“Sedang memikirkan apa?” Tanya pemuda itu
“Saya tidak memikirkan apa-apa” Ayu menjawab seolah-olah menyembunyikan kegelisahannya
Pemuda itu, tampaknya seseorang yang telah lama merantau. Teman lama yang dulu mungkin hanya sekadar kenalan dalam perjalanan hidup. Namun, kini ia kembali, membawa jejak perjalanan panjang yang mengubahnya. Dari jauh, ia terlihat berbeda, lebih matang, lebih berpengetahuan, dan tentu saja lebih berpengalaman. Ia adalah seorang perantau yang telah menyusuri kehidupan modern, menggenggam dunia yang serba canggih dan penuh dengan inovasi.
Perubahannya bukan hanya pada penampilannya, tapi juga pada cara pandangnya terhadap dunia. Ia telah terpapar dengan berbagai budaya, pengetahuan, dan pola hidup yang jauh dari kehidupan yang ia tinggalkan dulu. Dunia modern, dengan segala kecanggihan dan keserbaannya, telah membentuk dirinya menjadi sosok yang lebih global, dengan pemikiran yang lebih terbuka dan serba tahu.
Mungkin bagi sebagian orang, ia tampak seperti orang asing, tetapi bagi mereka yang mengenalnya dulu, ada satu kesamaan yang tetap ada: semangat hidupnya yang tak pernah pudar. Dunia modern ini adalah ladang baru baginya untuk berkembang, namun bukan berarti ia melupakan asal-usulnya. Pemuda itu, meski telah berubah, tetap membawa jejak masa lalu yang membuatnya berbeda, unik, dan tetap relevan dengan dunia yang ia hadapi sekarang. (bersambung)
*Dosen Tetap FKIP UNIQHBA dan Direktur PENA INSTITUTE

