Hamjah Diha*
Rimpu adalah wujud indah dari perpaduan budaya lokal (dou Mbojo) dan ajaran agama (Islam yang diyakini oleh dou Mbojo), sebuah kain yang tidak sekadar melilit tubuh Ayu, tetapi juga membungkus jiwa dalam kesederhanaan, kesucian, dan kesopanan. Seperti bunga yang mekar di ladang iman, rimpu melambangkan kepatuhan dan penghormatan terhadap perintah Allah dalam menjaga aurat dan kehormatan diri kaum perempuan (baca Ayat 53, 59, dan 33 dari Surat Al-Ahzab). Kain adat dou Mbojo yang membalut tubuh perempuan dalam rimpu ibarat perisai yang melindungi dari pandangan yang tidak pantas, sejalan dengan tuntunan syariat yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan martabat seorang wanita. Rimpu bukan hanya sekadar busana, tetapi sebuah pernyataan atau pengakuan seseorang tentang iman dan identitas yang mengukuhkan jati diri sebagai muslimah yang berakar pada budaya lokal dan bertaut pada langit Islam. Itulah yang selalu dijaga oleh Ayu.
“Aku akan menjaga nilai-nilai serta kehormata sebagai kaum perempuan. Untuk itu, aku selalu mengenakkan rimpu.” Ujar Ayu dalam hatinya!
Kalimat tersebut menjadi petanda bahwa komitmen Ayu untuk menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai serta kehormatan sebagai perempuan. Sebab, rimpu bukan sekadar kain pembatas aurat kaum perempuan, melainkan simbol dari keanggunan, keadaban, dan identitas yang diwariskan turun-temurun. Rimpu menjadi saksi bisu dari janji yang kuikatkan pada hati, bahwa Ayu akan selalu menjaga martabat dan kehormatannya sebagai seorang perempuan, tanpa pernah melupakan akar budaya dan warisan nenek moyang.
Ayu, gadis muda yang di wajahnya memancarkan cahaya kesederhanaan yang alami, Ibarat bunga yang belum tersentuh debu dunia, jiwa itu masih murni dan suci, memancarkan keindahan alami yang tak ternodai oleh kerumitan dan keburaman kehidupan. Seperti kuncup yang baru merekah di pagi hari, ia membawa harapan dan kesegaran, menawarkan sejuknya embun yang membasuh hati. Dalam keheningan, ia berbisik lembut, mengisyaratkan potensi tak terbatas yang belum terungkap. Seperti harumnya yang menguar perlahan, jiwa itu siap mewarnai dunia dengan keindahan dan keaslian, tanpa terbebani oleh masa lalu, namun selalu ada kecemasan akan masa depan. Kecemasan masa depan yang dikhawatirkan oleh Ayu adalah pengikisan nilai-nilai lokal, yakni “hilangnya kaum perempuan yang menjaga identitas lokal (rimpu)”.
Di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi (westernisasi), Ayu menjadi penjaga setia warisan budaya lokal, komitmennya begitu teguh, seperti batu karang di tepi lautan, melawan ombak zaman yang mencoba mengikis identitas lokalnya. Ia adalah penjaga cerita-cerita leluhur, pemelihara adat yang mulai terlupakan, dan penerang jalan bagi generasi yang nyaris tersesat dalam kebisingan dunia luar. Ayu tidak sekadar bertahan; ia berdiri kokoh, menjadi pelita yang menerangi jalan bagi mereka yang ingin kembali ke pangkuan budaya asli, menunjukkan bahwa modernitas tak perlu menghapus jati diri. Dalam kepolosannya, Ayu adalah simbol perlawanan yang lembut nan penuh makna terhadap “pelupaan budaya”, sebuah suara yang menggemakan pentingnya menjaga “identitas lokal di tengah perubahan zaman”. (bersambung)
*Dosen FKIP UNIQHBA & Direktur PENA INSTITUTE

