Site icon Kabar_Moe

Ana Fare Pidu

Hamjah Diha*

Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang jauh tersembunyi di balik pegunungan hijau dan lembah berliku, terdapat sebuah telaga yang begitu unik dan penuh misteri. Telaga ini memiliki air yang jernih bak kaca, memantul sinar mentari seperti ribuan bintangdi malam hari. Telaga ini, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan “telaga ana ware pidu“, dalam yang artinya “telaga tujuh bidadari atau tujuh permaisuri”.  Konon, telaga ini tidak seperti telaga biasa. Airnya berwarna kebiruan yang memikat, seolah-olah langit dan lautan berpadu dalam satu kesatuan harmonis. Di dasar telaga, terdapat batu-batu permata yang berkilauan, memberikan kilau indah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang berhati murni.

Legenda mengatakan bahwa telaga ini adalah pemberian dari para dewa, hadiah untuk sebuah desa kecil yang dihuni oleh orang-orang berhati baik dan penuh kasih. Orang-orang yang memiliki kesucian yang tinggi. Setiap tetesan air dari telaga tersebut diyakini memiliki kekuatan penyembuh, mampu menghapus segala luka dan duka. Namun, telaga ini memiliki rahasia yang lebih dalam. Di tengah malam, ketika bulan purnama memancarkan sinarnya yang paling terang, telaga akan bersuara, menceritakan kisah-kisah lama tentang para pahlawan, dewa, dan peri.

Penduduk desa sering berkumpul di tepi telaga untuk mendengarkan kisah-kisah tersebut, menghayati hikmah dan keajaiban yang dibawa oleh air yang mengalir tanpa henti. Telaga ini menjadi pusat kehidupan mereka, tidak hanya sebagai sumber air, tetapi juga sebagai tempat perenungan dan penghubung dengan dunia magis. Namun, keunikan telaga ini tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga pada pelajaran yang ia berikan. Setiap orang yang datang dengan niat tulus akan mendapatkan pencerahan, sementara mereka yang datang dengan hati penuh keserakahan akan diselimuti kabut tebal, membuat mereka tersesat dalam bayangan mereka sendiri.

Di sebuah telaga yang tersembunyi di tengah hutan nan permai tersebut, tinggalah ana fare pidu yang dikenal sebagai simbol keindahan dan kesucian. Setiap malam purnama, mereka turun dari kayangan, menyentuh permukaan telaga dengan kelembutan sayap mereka yang gemerlapan. Air telaga yang jernih memantulkan sinar bulan, menciptakan pemandangan yang memukau.

Ana fare pidu tersebut ini memiliki kisah yang penuh keajaiban dan misteri. Mereka datang untuk membersihkan diri dan merasakan kedamaian di dunia manusia. Keberadaan mereka di telaga membawa berkah bagi sekitarnya. Hutan menjadi subur, bunga-bunga bermekaran, dan burung-burung bernyanyi lebih merdu.

Namun, kehadiran mereka bukan hanya tentang keindahan. Ada legenda yang berbisik bahwa siapa pun yang mampu melihat mereka dengan hati yang murni akan diberkahi dengan kebijaksanaan dan keberuntungan. Namun, mereka yang berani mengganggu ketenangan para bidadari ini akan menghadapi nasib buruk.

Di suatu masa, seorang pemuda yang penuh rasa ingin tahu mendengar kisah tentang telaga ini. Ia memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang ana fare pidu. Dengan hati yang tulus nan suci, ia mengintip dari balik semak-semak, menyaksikan tarian anggun mereka di bawah sinar bulan. Namun, saat ia melangkah lebih dekat, salah satu bidadari menyadari kehadirannya. Dengan senyum penuh pengertian, ia memberi tahu pemuda itu bahwa keberanian dan ketulusannya akan membawa berkah dalam hidupnya. (bersambung)

*Dosen FKIP UNIQHBA dan Direktur PENA INSTITUTE

Exit mobile version